Pendidikan Karakter, Antara Harapan dan Kenyataan

Oleh : Muhammad Jazari, M.Pd.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2017 mencanangkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada implementasi kurikulum 2013 di semua jenjang pendidikan. Salah satu tujuan utama PPK adalah membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21. Nilai-nilai utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas. Nilai-nilai ini ingin ditanamkan dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami, dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah dan di masyarakat. PPK lahir karena kesadaran akan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan tidak pasti, namun sekaligus melihat ada banyak harapan bagi masa depan bangsa. Hal ini menuntut lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik secara keilmuan dan kepribadian, berupa individu-individu yang kokoh dalam nilai-nilai moral, spiritual dan keilmuan.

Meskipun pendidikan karakter selalu ditekankan di setiap perubahan kurikulum, namun hasilnya masih memprihatinkan. Hasil Surve yang dilansir oleh komunitas Selamatkan Generasi Emas Indonesia (semai2045.org) menyebutkan bahwa 93 dari 100 pelajar sudah mengakses situs pornografi, 63 dari 100 remaja melakukan hubungan sek di luar nikah dan 21 dari 100 remaja melakukan aborsi. Fakta ini menunjukkan bahwa kita sedang mengalami krisis moral yang jika tidak segera disadari dan dilakukan perbaikan maka dipastikan generasi emas yang kita harapkan hanya akan menjadi impian semata, ibarat pepatah yang mengatakan layu sebelum berkembang. Sudah banyak strategi, cara dan kebijakan yang dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan karakter, namun hasilnya belum menggembirakan. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu : Kembali menempuh jalan Allah , kembali kepada jalan Agama. “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38). Caranya adalah dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan religius di sekolah, pembiasaan-pembiasaan ibadah di setiap lembaga pendidikan dan integrasi nilai-nilai karakter dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Lembaga Pendidikan yang baik harus berorientasi pada terbentuknya karakter peserta didik sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang Sisdiknas. Setiap tahapan pendidikan dievaluasi dan dipantau dengan saksama sehingga menjadi jelas apa yang menjadi potensi positif peserta didik yang harus dikembangkan dan apa yang menjadi faktor negatif peserta didik yang perlu disikapi. Akar dari karakter ada dalam cara berfikir dan cara merasa seseorang. Ini merupakan struktur kepribadian yang natural dan memang sudah menjadi sunatullah. Buku “Membentuk Karakter Cara Islam” karya Anis Matta menyebutkan langkah–langkah untuk membentuk atau merubah karakter seseorang harus dilakukan dengan menyentuh dan melibatkan 3 unsur pembangun manusia yaitu hatinya (bagaimana ia merasa), fikirannya (bagaimana ia berfikir) dan fisiknya (bagaimana ia bersikap).
Dalam konsep Islam, karakter tidak sekali terbentuk lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter selalu ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis. Melalui latihan dan pembiasaan karakter yang terus menerus, akhirnya menjadikan seseorang akan memiliki akhlak yang baik. Rasulullah SAW berkata, “Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di majelis terdekat denganku di hari kiamat?” Kemudian Rasul mengulanginya sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, ya Rasulullah !” Lalu Rasul bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (Hadist riwayat Imam Ahmad).
Semoga kita dan generasi penerus kita memiliki pemahaman agama yang baik, senantiasa bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri sehingga memiliki karakter yang kuat, dijauhkan dari kepribadian yang terpecah (split personality) dan menjadi bagian dari solusi perbaikan bangsa dan negara kita. Wallahu‘alam.

Tentang Penulis:

Muhammad Jazari, M.Pd.
Adalah salah seorang alumni yang mengabdikan diri sebagai pengajar Fisika di SMA Negeri 1 Karanggede.
Lulus SMAN 1 Karanggede tahun 1998,
Menyelesaikan S-1 Pendidikan Fisika di UNS, Surakarta
Menyelesaikan S-2 di UNNES, Semarang

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!